Zunita Mafuadah (17-08-2022). Kisah ini dimulai pada Jum’at pagi, seluruh peserta study tour berkumpul di lapangan untuk persiapan berangkat dan tak lupa berdoa bersama. Setelah dibubarkan para siswa dan siswi SMA Negeri 1 Mantup beserta guru pendamping segera masuk kedalam bus. Sudah menjadi kebiasaan umum kalau liburan pasti tidak meninggalkan yang namanya karaoke dalam bus, suasana dalam bus pun ramai dipenuhi suara nyanyian anak-anak. Bertolak belakang dengan diriku yang sudah mendarah daging kalau saat berkendara perjalananku dipenuhi dengan tidur dan beruntungnya aku karena busnya memfasilitasi bantal beserta selimut.

Dua jam berlalu akhirnya telah sampai di tujuan pertama yakni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), kami langsung di arahkan ke Ruang Amphiteater yang berada di lantai kedua Gedung Twin Towers UINSA. Sambutan hangat pun dilontarkan kepada kami. Disana kami diberi materi tentang berbagai informasi terkait Universitas Islam Negeri Sunan Ampel tentang jurusan, fasilitas, pendaftaran, beasiswa, dan tak lupa sesi tanya jawab di penghujung acara. Setelah materi selesai kami diarahkan ke depan gedung Twin Towers UINSA untuk melaksanakan sesi foto bersama, kemudian kami diperbolehkan istirahat maupun berkeliling melihat gedung disana. Selang beberapa waktu tibalah waktu sholat jum’at, setelah itu kami makan, dan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan kedua yakni menuju ke Bali yang kurang lebih menghabiskan waktu sepuluh jam. Waktu pun berlalu, telah sampai di kapal para penumpang diarahkan keluar dari bus untuk menuju ke lantai dua. Di tengah perjalanan, jam yang di handphone berubah dari WIB ke WITA yang menandakan kita telah sampai di Bali. Welcome To Bali,  akhirnya yang dinanti beberapa bulan terwujud juga, yang kurasakan saat ini hanyalah kegembiraan entah bagaimana cara mengungkapkannya dengan kata-kata. Tujuan pertama kami di Bali yaitu ke Tanah Lot, kami diarahkan untuk mandi dan sholat dulu di tempat yang tidak jauh dari tujuan. Setelah semuanya selesai kami menuju ke Tanah Lot  dengan jalan kaki, sungguh wisata yang menakjubkan, ombak yang sangat besar beserta batu karang disekitar pantainya. Aku berkeliling pantai mencari spot bagus, pastinya untuk mengambil foto. Setelah semuanya kembali di titik kumpul kami menuju ke tempat makan yang tidak jauh dari pantai.

Saatnya melanjutkan perjalanan berikutnya menuju ke Pantai Pandawa, sudah pasti rombongan bus kami ditemani dengan seorang bli yang bertugas sebagai pemandu wisata. Bli yang sangat ramah bercanda sepanjang perjalanan, memperkenalkan bahasa bali, budaya bali, dan semua hal tentang bali. Membuatku tak bisa tidur karena ramai, ditambah cuacanya yang panas sampai menembus kaca kedalam bus. Di tengah perjalanan kami ditunjukkan patung GWK (Garuda Wisnu Kencana) yang kata blinya merupakan patung terbesar ketiga di dunia, walaupun cuma terlihat dari belakang dan dari kejauhan tetapi memang patugnya sangat amat besar dan tinggi. Sampai di Pantai Pandawa, sebenarnya malas turun karena sangat letih dan rasanya mual. Tapi mau bagaimana lagi dapat kesempatan berlibur kesini ya kali mau di sia-siakan. Pantainya sangat indah dengan warna airnya yang biru kehijauan, tapi karena disana sangat padat pengunjung jadi aku dan temanku memutuskan kembali ke sekitar bus. Tidak foto disekitar pantai tapi foto di tempat yang backgroundnya ikon tulisan “PANTAI PANDAWA”  yang dibangun di dinding batu dan berada di ketinggian hampir 20 meter.

Tujuan ketiga di Bali yakni menuju ke Pusat Oleh-Oleh Joger, sebelum itu kami makan sekaligus belanja di Karang Kurnia. Kebingungan melanda muter sana-sini cari baju dan daster, ribet beli buat oleh-oleh sampai lupa buat aku sendiri. Tak lama traveler memanggil kami semua untuk kembali ke bus, waktu belanja sudah selesai dan lanjut perjalanan. Sesampainya di Pusat Oleh-Oleh Joger, aku dan bestieku memutuskan untuk tidak masuk dan melaksanakan sholat di mushola sekitar parkiran. Lalu istirahat di tempat samping mushola yang ditempati para anak laki-laki untuk ngopi, mau bagaimana lagi tidak ada tempat lain untuk istirahat jadi mau tidak mau disana aja. Setelah yang lain selesai belanja kami diarahkan untuk naik angkutan umum menuju ke Pantai Kuta yang hanya membutuhkan waktu lima menit.

Pantai Kuta, pantai yang dipenuhi pasir di pesisirnya dan hamparan garis pantai yang sangat landai dapat memanjakan mata pengunjung disana. Selain cocok buat berjemur, pantai ini memiliki gelombang ombak yang besar cocok untuk lokasi aktivitas selancar. Karena kami tiba di Pantai Kuta pada sore hari jadi bisa menikmati indahnya sunset, cocok untuk background foto aesthetic bernuansa gelap. Letih berjalan kesana-kemari aku dan temanku duduk santai lumayan jauh dari pantai, walau jauh tapi pasirnya masih terasa basah. Tak lama kemudian pihak travel mengumumkan untuk segera kembali ke angkutan umum dan menuju ke Pusat Oleh-Oleh Krisna. Setelah berbelanja kami diarahkan untuk kembali ke bus. Tiba-tiba ada kabar bahwa dari rombongan kami ada yang tertinggal di Pantai Kuta, pihak travel langsung mengambil tindakan untuk menjemput mereka. Jadilah penghambat perjalanan malam ini, mau tidak mau kita harus menunggu sampai mereka kembali, satu jam berlalu akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan ke Hotel Vasini.

Sesampainya di hotel kami langsung bersih-bersih diri, aku membongkar isi tasku dan merapikannya kembali, sedangkan yang lain ada yang mandi dan ada juga yang merapikan barangnya. Setelah mandi dan sholat, aku dan Aulia pergi keluar untuk makan, kemudian kembali ke kamar kita kaget karena pintu kamarnya terbuka dengan sandal yang terdapat ditengahnya. Ternyata waktu aku masuk tidak ada siapa pun di kamar, Dinda dan Widya entah pergi kemana.

Rasanya tidak bisa tidur sama sekali padahal sudah larut malam, tiba-tiba Widya menyalakan lilin yang ditancapkan diatas pai susu. “Happy Birthday” di ucapkan mereka, oh iya ini kan hari ulang tahunku kenapa bisa lupa. Lalu aku pun make a wish dan meniup lilin, mereka mengungkapkan kekesalannya padaku karena tidak tidur-tidur yang membuat mereka jadi waspada, aku yang mendengarnya pun cuma bisa tertawa ya mau bagaimana lagi aku aja tidak sadar kalau ulang tahun. Sisi lain aku bahagia banget karena sweet seventeen in Bali. Setelah kami merayakannya kami kembali tidur.

Keesokan harinya setelah kami selesai mandi, makan, dan membereskan barang-barang ke dalam bus, kami melanjutkan perjalanan berikutnya ke tujuan terakhir yakni Danau Beratan Bedugul. Perjalanan panjang kami tempuh sekitar satu jam, jalan menuju kesana menanjak dan berliku-liku sangat tajam, sekali terpeleset langsung masuk jurang. Setelah perjalanan panjang akhirnya sampai di sebuah tempat makan, akibat dari perjalanan tadi membuat nafsu makanku turun karena sangat mual dan pusing.

Setelah itu kami menuju ke Danau Beratan Bedugul tepat pada waktu dhuhur kami sampai. Turun dari bus kami langsung menuju ke masjid besar disekitar danau, kami perlu jalan menanjak untuk sampai ke masjid. Saat sampai di masjid kita disuguhkan pemandangan yang sangat indah tak cuma masjidnya yang sangat megah dan cantik, kita juga bisa melihat Danau Beratan dari atas, rasanya tak sia-sia jalan menanjak begitu tinggi. Disana benar-benar dingin bahkan ainya terasa seperti air es, jadi untuk yang rentan kedinginan dianjurkan untuk memakai jaket. Setelah sholat kami turun bergabung dengan yang lain menuju ke Danau Beratan Bedugul. Terdapat Pura Ulun Danu Beratan  yakni pura yang berada ditepi Danau Beratan yang berada didaerah dataran tinggi sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Pada saat air Danau Beratan naik, pura ini terlihat seakan mengapung di atas permukaan air danau. Pura ini pernah ada di mata uang Rp. 50.000. Tak hanya pemandangannya yang indah danau ini bisa digunakan untuk aktivitas watersport seperti halnya menaiki speedboat.

Tak lama kemudian kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Yang tadinya menanjak sekarang menurun, tetap tidak ada bedanya rasanya sama-sama mual, pusing, dan diselimuti rasa ketakutan. Beberapa jam telah kami lalui akhirnya sampai ke sebuah rumah makan, setelah itu melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Kapal ini sangat berbeda dari yang kami tumpangi saat berangkat, yang ini lebih tenang tidak terasa saat berjalan, tapi isinya sangat padat. Bau amis di parkiran membuat rasa mualku bertambah. Setelah turun dari kapal kami melanjutkan perjalanan, sekitar jam dua belas malam kami berhenti di sebuah masjid untuk sholat dan istirahat sebentar. Kemudian melanjutkan perjalanan,dan akhirnya sampai di SMA Negeri 1 Mantup.

Inilah kisah singkatku yang kuberi judul “STUDY TOUR YANG DINANTI”,mengenai keluh kesah, canda tawa,dan banyak hal yang lainnya. Kenangan yang buruk biasanya dipendam dan dilupakan namun sebaliknya kenangan yang indah memang kerap disimpan dan diceritakan.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *